Bogor Darurat Sampah! DLH dan Eco-Technopark UIKA Sinergi Cari Solusi
- Istimewa
“Sampah itu persoalan sosial, ekonomi, bahkan budaya. Karena itu, penyelesaiannya harus dengan edukasi dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Rimun mencontohkan Jepang sebagai negara yang berhasil mengelola sampah dengan baik.
“Di Jepang, pemisahan sampah sudah berlembaga sejak di rumah tangga. Jadi ketika sampai ke tahap pengolahan, prosesnya jauh lebih mudah dan efisien,” tambahnya.
DLH Kota Bogor kini menyiapkan program percontohan 30 RT bebas sampah di enam kecamatan. Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya baru pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Upaya teknis tanpa melibatkan masyarakat tidak akan cukup. Kami berharap program 30 RT bebas sampah ini bisa jadi contoh bahwa perubahan nyata dimulai dari lingkungan terkecil,” kata Setiawati.
Eco-Technopark UIKA Siap Berkolaborasi
Bogor Darurat Sampah DLH dan Eco-Technopark UIKA Sinergi Cari Solusi
- Istimewa
Dalam pertemuan dengan DLH Kota Bogor pada Kamis, 2 Oktober 2025, Koordinator Peneliti Eco-Technopark UIKA, Dr. Budi Susetyo menyatakan kesiapannya untuk mendukung Pemerintah Kota Bogor, mengatasi permasalahan sampah.
“Strategi pengelolaan sampah berbasis Eco-Technopark skala TPS3R adalah konsep yang mengintegrasikan teknologi, sosial, ekonomi, dan kebijakan dalam satu sistem inovasi,” jelas Budi Susetyo.
Menurutnya, model ini sudah terbukti di negara maju untuk mendukung ekonomi sirkular, meski di Indonesia masih relatif baru. Lebih lanjut Rimun menambahkan, kampus memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan solusi nyata.
“UIKA melalui Eco-Technopark siap bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat. Kami ingin mendorong terciptanya ekosistem pengelolaan sampah yang bukan hanya mengurangi timbulan, tapi juga memberi nilai tambah ekonomi dan membentuk budaya baru yang lebih ramah lingkungan,” tuturnya.
Kolaborasi DLH Kota Bogor dengan UIKA melalui Eco-Technopark menjadi harapan baru. Dengan pendekatan kolaboratif dan inovasi, kota ini berpeluang menjadi contoh bagaimana masalah sampah dapat ditangani secara berkelanjutan. Seperti disampaikan Setiawati, “Kalau tidak ada pemilahan dari sumber, masalah tidak akan selesai.”
Sementara Rimun menegaskan, “Persoalan sampah bukan hanya teknis, tapi soal mengubah perilaku dan budaya. Itu butuh edukasi, konsistensi, dan kerja sama semua pihak.”
Jika program ini berhasil, Kota Bogor bisa menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia yang juga tengah berjuang keluar dari krisis sampah.