Istiqamah Itu Berat, Kisah DN Aidit Membuktikan Hidayah Allah Sangat Mahal
- Istimewa : Press release
Namun Allah menjaga negeri ini. Kudeta itu gagal. PKI runtuh. Dan Aidit berubah status: dari penguasa podium menjadi buronan nomor satu.
Pelarian yang Tragis
2 Oktober 1965, Aidit melarikan diri. Dari Semarang ke Solo, lalu ke Boyolali. Ia berpindah-pindah, bersembunyi di rumah simpatisan. Tentara RPKAD tak pernah berhenti memburunya.
Seorang warga Solo pernah bersaksi: “Aidit itu bersembunyi di lemari. Lemari itu ada pintu rahasianya. Tapi tentara tahu. Waktu dibuka, dia pucat, gemetar. Bukan lagi tokoh besar, hanya seorang pelarian.”
Aidit digelandang ke Boyolali. Pada 23 November 1965, di sebuah sumur tua belakang Batalyon 444, ia dieksekusi mati.
Kata Terakhir yang Mengejutkan
Setiap terpidana biasanya diberi kesempatan berbicara sebelum eksekusi. Harapan orang-orang saat itu: Aidit kembali pada Allah. Mengucap istighfar, shalat taubat, atau setidaknya kalimat syahadat.
Namun Aidit memilih jalan lain. Dengan suara lantang, ia justru berpidato. Ia memuji komunisme, menyerukan agar orang-orang tetap setia pada PKI. Regu tembak yang mendengar muak. Peluru dimuntahkan. Aidit jatuh ke sumur dengan kalimat komunis di bibirnya.
Hilang sudah hafalan Qur’an masa kecilnya. Hilang lantunan adzan yang dulu ia suarakan. Yang tersisa hanya pidato ideologi.
Refleksi: Hidayah Itu Mahal
Kisah Aidit menjadi potret nyata bahwa setiap orang akan mati sesuai kebiasaannya. Ia yang tumbuh sebagai santri, justru wafat dalam kekufuran ideologi.
Hidayah Allah bukan warisan. Ia bukan jaminan bagi anak ulama, bukan pula milik tetap bagi yang pernah rajin mengaji. Ia harus dijaga dengan istiqamah hingga akhir hayat.
Istiqamah itu berat. Ia menuntut lingkungan yang baik, teman shalih yang selalu mengingatkan, serta doa yang tak henti dipanjatkan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sederhana, namun begitu dalam maknanya:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Kisah DN Aidit bukan hanya catatan sejarah kelam 1965, tetapi juga peringatan abadi. Bahwa cahaya hidayah lebih mahal daripada segala kekuasaan. Dan tanpa istiqamah, cahaya itu bisa hilang, meninggalkan seseorang dalam kegelapan yang ia pilih sendiri.