Madrasah Keluarga: Saat Rumah Kembali Menjadi Sekolah Pertama dan Terutama

Ilustrasi Keluarga
Sumber :
  • AI Generated / Dok. AI via Gemini

Bogor, VIVA Bogor – Pernah dengar ungkapan, "Rumah adalah sekolah pertama, orang tua adalah guru utama"? Kalimat ini sering kita dengar, tapi di tengah hiruk-pikuk zaman now, di mana gadget seringkali menjadi "pengasuh" dan tugas sekolah menumpuk, maknanya terasa semakin mendalam dan mendesak.

Bambang Pamungkas: Evaluasi Timnas Harus Dilakukan oleh yang Berkompeten

Memasukkan anak ke sekolah terbaik bukanlah titik akhir dari tanggung jawab kita. Justru, di situlah peran kita sebagai orang tua ditantang untuk lebih kreatif. Bagaimana jika kita menghidupkan kembali konsep Madrasah Keluarga? Bukan dengan kurikulum kaku, tapi dengan program-program sederhana yang membuat orang tua kembali aktif jadi "guru" utama bagi anak-anaknya.

Ini dia 5 ide yang bisa dicoba untuk memulainya!

Jay Idzes Tak Sepakat Komentar Negatif Warganet Terhadap Ketum PSSI
  1.  Kajian Parenting: Tempat Curhat dan Cari  Solusi Bareng

Bayangkan acara kumpul-kumpul santai ba'da Maghrib atau di akhir pekan, tapi isinya bukan sekadar gosip. Tema obrolannya ringan tapi penting, seperti "Bikin Anak Betah di Rumah Ketimbang Gadget" atau "Strategi Menghadapi Anak yang Mulai Berbohong". Formatnya diskusi, berbagi pengalaman nyata, sehingga kita merasa punya teman seperjuangan, bukan sedang digurui.

Samurai Biru Taklukkan Brasil 3–2, Jepang Cetak Sejarah Baru di Tokyo

Kata Kunci: Komunitas orang tua, ilmu parenting, support system.

      2.  PR yang "Memaksa" Quality Time

Apa jadinya jika PR dari sekolah justru menjadi momen paling ditunggu anak? Misalnya, PR-nya adalah wawancara dengan kakek tentang masa kecilnya, atau praktik membuat makanan sederhana bersama ibu. Tugas semacam ini secara halus "memaksa" orang tua meluangkan waktu berkualitas, sekaligus menunjukkan bahwa belajar itu bisa terjadi di mana saja, dengan cara yang menyenangkan.

Kata Kunci: Quality time, belajar sambil bermain, ikatan keluarga.

3. "Rapor" untuk Orang Tua? Kenapa Tidak!

Selama ini hanya anak yang tegang menunggu rapor. Bagaimana jika orang tua juga dapat "laporan perkembangan"? Bukan untuk dihakimi, lho! Laporan ini berisi apresiasi dari guru, seperti, "Terima kasih, Bapak, sudah rutin mendampingi Ananda membaca," atau saran ringan, "Minggu depan, yuk coba ajak anak ngobrol tentang teman barunya." Feedback ini bikin kita makin sadar dan semangat terlibat.

Kata Kunci: Kolaborasi orang tua-guru, feedback membangun, keterlibatan orang tua.

Halaman Selanjutnya
img_title