Target Gandeng Mitra Global : KLHK Matangkan Pasar Karbon Nasional untuk Transaksi 2026

Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim
Sumber :
  • Viva Bogor

Bogor, VIVA Bogor – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengumumkan langkah signifikan dalam finalisasi pasar karbon nasional, dengan menargetkan transaksi perdana dapat dimulai pada tahun 2026. Melalui serangkaian kerja sama strategis dengan lembaga internasional, Indonesia kini membuka akses bagi proyek-proyek mitigasi iklim dalam negeri untuk diakui di panggung global.

Sinergi Kota dan Kabupaten Bogor Wujudkan Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan

Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLHK, Ary Sudjianto, menyampaikan bahwa Indonesia kini telah memasuki tahap implementasi ekonomi karbon yang krusial.

“Selama tujuh bulan terakhir kami melakukan unlocking ekonomi karbon. Dimulai dari Mutual Recognition Agreement dengan Gold Standard, kemudian Plan Vivo, hingga kerja sama terbaru dengan Verra dan PuroEarth,” kata Ary dalam pertemuan bersama para pelaku usaha di Sentul, Kabupaten Bogor, Jumat (10/10/2025).

Bambang Pamungkas: Evaluasi Timnas Harus Dilakukan oleh yang Berkompeten

Menurut Ary, kelima kerja sama tersebut mencakup sekitar 90 persen kebutuhan proyek karbon di Indonesia. “Langkah ini memastikan proyek mitigasi perubahan iklim di Indonesia dapat berjalan dengan pengakuan internasional. Yang penting sekarang adalah jalannya dulu,” ujarnya.

Mempermudah Proyek Berjalan dan Mendorong Investasi

Jay Idzes Tak Sepakat Komentar Negatif Warganet Terhadap Ketum PSSI

Untuk memastikan efisiensi, KLHK menyiapkan Guidance and Procedure Agreement (GAPA) sebagai payung hukum bagi proyek-proyek yang sudah berjalan. Kebijakan ini merupakan arahan langsung dari Menteri LHK untuk mencegah para pelaku usaha harus mengulang proses dari awal.

“Kami tahu ada proyek yang sudah di tahap penerbitan karbon kredit. Dengan adanya GAPA, mereka bisa lanjut tanpa harus memulai ulang, sehingga efisien dari sisi waktu dan biaya,” jelas Ary.

Langkah mitigasi yang didukung mencakup dua sektor utama: proyek berbasis teknologi (tech-based) seperti energi surya dan efisiensi energi, serta proyek berbasis alam (natural-based) seperti rehabilitasi hutan dan mangrove.

KLHK mencatat, setidaknya tujuh hingga delapan perusahaan telah siap bertransaksi, dengan satu proyek berbasis alam ditargetkan memulai pada akhir 2025 dengan potensi penyerapan 3,4 juta ton karbon.

“Para pelaku proyek sudah berinvestasi untuk menjaga lingkungan. Mereka layak mendapat apresiasi, bukan untuk memperkaya diri, tetapi untuk memperluas pelestarian hutan dan energi terbarukan,” imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
img_title