Sosok Idham Chalid: Wakil Rakyat yang Tak Sibuk Kejar Fasilitas

Idham Chalid: Bukan Wakil Rakyat yang Sibuk Mengejar Fasilitas
Sumber :

BOGOR – Saat rakyat masih berjuang menghadapi kesusahan finansial, sebagian oknum anggota DPRD justru sibuk menuntut fasilitas dan tunjangan mewah.

Makan Bergizi Gratis atau Fast Food Gratis? Kritik Pedas Ahli Gizi Dr. Tan Shot Yen pada MBG

Apalagi sampai memantik aksi dimana berujung pecah, memprotes perilaku wakil rakyat yang lebih mirip penikmat kekuasaan ketimbang penyambung lidah rakyat.

Ya, kontras itu kian terasa bila dibandingkan dengan sosok almarhum KH Idham Chalid. Sosok Ketua DPR RI periode 1971–1977 sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama ini menjalani hidup jauh dari hiruk-pikuk fasilitas.

Bansos Beras Cair Lagi Oktober–November 2025, Rp7 Triliun Siap Digelontorkan!

Ia dan keluarganya memilih naik metromini seperti rakyat biasa dan anak-anaknya pun enggan memanfaatkan nama besar sang ayah untuk masuk politik, dan lebih memilih berwirausaha.

Padahal, jabatan Idham bukan sembarangan, yakni Wakil Perdana Menteri, Menteri Kesejahteraan Rakyat, Ketua DPR, hingga Ketua MPR.

Kabar Gembira! 18,27 Juta Keluarga Bakal Dapat Minyak Goreng Gratis Mulai Oktober 2025

Di Nahdlatul Ulama (NU) , ia tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah terlama, memimpin selama 28 tahun (1956–1984).

Namun, setelah pensiun, Idham Chalid menolak semua tawaran jabatan komisaris dan bisnis sampingan.

Ia kembali ke fitrah, yaitu menjadi guru agama, mengajar santri, memimpin pesantren, serta membina rumah yatim di Cisarua.

"Bangsa kita butuh sosok seperti Idham Chalid, pejabat setingkat Ketua DPR RI dan wakil perdana menteri, menolak fasilitas mewah dan bahkan diakhir masa jabatannya lebih memilih jadi guru."

" Ya, kita butuh pejabat yang lebih banyak meneladani Idham, bukan yang berlomba memperkaya diri, jadi wakil korporat tidak jadi wakil rakyat."

Idham Chalid wafat pada 11 Juli 2010, di usia 88 tahun. Wajahnya memang sudah diabadikan dalam pecahan Rp5.000.

Tapi warisan sejatinya bukanlah sekadar potret di lembar uang, melainkan teladan hidup, bahwa kekuasaan tak ada artinya bila hanya dijadikan jalan menumpuk fasilitas.

"Ya, kekuasaan sejati adalah kembali melayani, bukan diperkayai pasilitas negeri." Jasinga, Sabtu, 30 Agustus 2025.